Karir Ku Passion Ku

EKSPEKTASI BAGAI MIMPI

Dalam hidup, selalu ada fase-fase gamang terkait masalah jenjang karir dan prospek masa depan. Semua orang mengalami, termasuk aku.

Lulus kuliah, selesai menyusun skripsi, mendapatkan ijazah berbonus gelar, lalu berkarir. Degggg….fase galau adalah fase dimana aku berada di antara masa-masa transisi kelulusan dan mendapatkan pekerjaan.

Saat dimana kita berharap menata  karir sesuai minat dan ijazah, tapi malah terkendala beberapa hal yang tak terduga. Ditentang keluarga, Tak diterima perusahaan, Tak punya  cukup fasilitas, Tak punya banyak kenalan, dan macam-macam tetek bengek permasalahan akhirnya bermunculan. Duarrr…

Ternyata semua perencanaan tak semudah seperti yang pernah dibayangkan, sungguh.

Pada akhirnya ekspektasi hanya terlihat sebagai mimpi.

Orang bilang “Kerja itu jangan pilah- pilih”Tapi ini masalah passion, kebutuhanku adalah berkarir, bukan terbatas pada pencapaian uang semata.

PILIH MANA?

Di dunia ini, ada banyak orang yang bekerja tak sesuai  minat dan bakat, bahkan kerapkali ditempatkan oleh atasan di posisi yang tak sesuai ijazah. Boro-boro minat, menjalanipun seperti setengah hati, namun apa daya, kebutuhan terkait masalah uang semakin mendesak. Pilihan selanjutnya? Menerima, dan belajar mencintai. Maksudku bukan mencintai kekasih, tapi menyukai pekerjaan yang dijalani.

Seperti halnya aku kala itu. 

Bicara passion, ketika aku berusia 19 tahun, aku bahkan sempat bingung dengan apa yang ku inginkan.

Artikel sebelumnya baca di 👉https://dianelababel.wordpress.com/2017/05/10/tentang-passion/

Awalnya aku merasa yakin bahwa aku sedang berada di dalam proses untuk menjadi sesuatu, tapi sekian waktu dan hari berlalu, aku bahkan tidak dapat melihat jalan di depan ku. Karir ku stuck, dan pekerjaanku kerap terbengkalai. 

Rasa mengerjakan pun butuh energi yang berlimpah ruah untuk menyelesaikan.

Bingung. Terlebih saat orang tua dan keluarga seakan mendesak untuk segera bekerja dan memulai karir.

Memilih pekerjaan tak bisa juga sembarangan. Kadang terasa ngenes saat pekerjaan yang didapat malah tak sesuai dengan ijazah yang dipegang.

Orang bilang :”Kerja itu jangan pilah pilih”

Oke. Untuk menghasilkan uang tak butuh banyak pilihan, bahkan dari  penerima jasa cuci baju pun bisa menghasilkan uang kan. Tapi ini masalah passion, kebutuhanku adalah berkarir, bukan terbatas pada pencapaian uang semata.

Aku mengintip-intip segala kemampuanku.  Bermain gitar, menyanyi, melukis, memasak, aku suka. Bahkan menulis cerita dan membangun situs web adalah kebiasaan. Teman-temanku bilang semua itu bisa dijadikan uang. Tapi tetap saja, tak semudah seperti yang dibayangkan. Aku mencoba, tapi selalu gagal. Barangkali usahaku belum maksimal.

Waktu di bangku pendidikan aku menyukai matematika, seni dan sastra. Bisa dikatakan  waktu itu aku begitu aktif mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan, meski hanya di tingkat daerah namun cukup membuat sekolah ku bangga atas prestasi dan nama baik yang ku angkat.

Lantas,  bagaimana semua itu bisa diterjemahkan ke dalam karir praktis yang masuk akal ? 

apalagi yang memungkinkan adanya semacam sensasi kesenangan atau kegembiraan saat aku mengerjakannya. Hingga aku tak perlu menghabiskan banyak energi didalamnya.

Suatu hari adik angkat ku Sayidah Iklimah yang nota bene bergelut di ranah psikologi  berkata


” kak, kata dosenku kalau berkarir sebaiknya gunakan karir yang membutuhkan energi terkecil kakak saat melakukannya”.

Sungguh…. semuanya berada di luar jangkauan.

Masalahnya adalah aku tidak ingin memilih hanya pada satu minat saja dan membiarkan yang lain pergi sia-sia. 

Tapi sungguh melepaskan hobi terdengar seperti komitmen yang mengerikan.

Bagaimana jika nanti apa yang ku pilih ternyata salah? Hingga ibuku angkat bicara

Tak perlu banyak bakat, satu bakat tapi di seriusin adalah lebih baik daripada seribu bakat tapi tak terarah. Pilih mana? jadi manusia jangan rakus”

Jlebbbb….

Maksud ibuku bagus, tapi sebagian besar saran keluarga yang lain sangat tidak menarik. Seperti harus dapatkan pekerjaan yang baik dan jalani karir di perusahaan terkemuka. 

Mereka sama sekali tidak memberi saran bahwa aku harus mengikuti saja minatku,  dan hal-hal lain akan beriringan hingga aku menemukan jalan keberhasilan ku sendiri !  

Aku memiliki teman yang rata-rata menyukai pekerjaan kantor mereka, dan memang benar peluang muncul saat kita mendengarkan kata hati.

Tapi, bukankah aku telah berhasil melewati sekolah untuk seluruh hidup ku, tahu persis apa yang ku harapkan dari sosok “aku”.

Sekarang, jalan di depan tampak keruh, dan tiada ambulance yang bisa menyelamatkanku. Seperti orang sakit, mubgkin cara pikirku yang sakit kala itu.

Ada buku peraturannya? Dan ketika aku melihatnya sekilas, mengapa jadi seperti hukuman mati?

~bersambung~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s