MUSLIM dan REVOLUSI KOPI

Sejarah ditemukannya kopi sebagai minuman yang banyak digemari orang ternyata tak lepas dari peran muslim dalam penemuannya.

“Duhai….Kopi memang berwarna hitam, tapi hitam justru menyalakan api semangat, bahkan memancarkan cahaya hingga putih itu jadi berwarna.

Kata Kopi sebenarnya berasal dari kata قهوة (Qahwa) yang  dalam bahasa Arab  berarti kekuatan. Lalu diserap menjadi ‘Qava’ dan ‘Qafa’ karena orang Turki tidak dapat mengucapkan dengan baik kata ‘wa’. Kemudian disebut ‘Cafe’ dan ‘Coffee’ di Eropa. 

Dalam sebuah manuskrip disebutkan bahwa, pada abad ke 14 kopi mulai dibawa oleh orang Yaman, Arabia. Sedangkan ilmuwan muslim Ar Razi dan Ibnu Sina mengungkapkan kopi telah dikenal di kalangan muslim sejak abad ke 10.

Biji kopi  yang menimbulkan efek energik serta mengandung zat yang membuat mata menjadi “sakti” untuk  begadang di malam hari inilah yang membuat kebanyakan umat muslim mulai memanfaatkannya untuk tujuan shalat malam. 

Kedai kopi-pun mulai dibuka dan menjadi tempat penting untuk pertukaran informasi yang kadang-kadang disebut sebagai “Schools of the Wise“, dan kebanyakan digunakan oleh umat beragama untuk tujuan keagamaan. Akhirnya minuman Ini menyebar dari Yaman hingga ke pusat utama kekhalifahan saat itu, Kairo, Baghdad, dan sampai ke Damaskus. 

Banyak kedai kopi di Kairo tumbuh di sekitar Universitas Al-Azhar. Kemudian berlanjut ke ibukota Kekaisaran Ottoman, Istanbul. Disanalah minuman kopi mulai diperkenalkan ke ibukota Kekaisaran Ottoman, Istanbul pada tahun 1554-55, pada masa pemerintahan Suleman yang megah. 

Di istana Ottoman ini, cara baru minum kopi ditemukan. Mereka mencoba memanggang biji kopi di atas api dan kemudian ditumbuk halus untuk dimasak perlahan dengan air di atas arang yang membara. Dengan metode pembuatan minuman baru ini akhirnya kopi menjadi lebih populer.

Kopi merupakan bagian penting dalam menu masakan kerajaan, bahkan sampai-sampai  beberapa pembuat kopi utama  disana naik pangkat, Grand Viziers-pun menjadi Sultan.

Perlahan, kedai kopi mulai dibuka di Istanbul, hingga di tempat-tempat yang dekat dengan perkotaan. Seiring berjalannya waktu, kedai kopi dan budaya kopi segera menjadi bagian integral dari budaya sosial Istanbul.

Dan yang uniknya lagi kopi malah menjadi salah satu syarat dalam akta nikah loh!

Di antara persyaratan yang tercantum dalam akta nikah tersebut adalah pria  akan memberi cukup kopi sesuai kebutuhan pasangannya.

Dari sini caruk maruk ihwal kopi berlanjut ke Venesia melalui pedagang. Hingga pada tahun 1615 untuk pertama kalinya  seorang berkebangsaan Eropa mencicipi kopi.

Lambat laun akhirnya kedai kopi pertama di Eropa ter-ekspos di Venesia pada tahun 1645. Lantas pada tahun 1637, seorang Turki memperkenalkan minuman tersebut ke Oxford, London. 

Kopi inipun menjadi populer di kalangan guru dan siswa yang rela mati-matian membentuk Klub Kopi Oxford. Hingga pada tahun 1660, kedai kopi menjadi bagian integral dari budaya mereka. 

Masyarakat umum memberi nama kedai kopi ini, “Penny Universities” karena pengunjung kedai ini didominasi oleh para penulis, seniman, penyair, dan lain-lain didalamnya.  Setiap  satu sen yang dikeluarkan-pun pun seolah di ganti lunas dengan percakapan intelektual yang bermanfaat di sekitar mereka.

“Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, melebihi kebanyakan manusia.”

Kemudian pada tahun 1669, Sultan Mehmet IV mengirim seorang duta besar ke istana Raja Louis XIV dari Prancis dengan membawa hadiah minuman kopi. Minuman ini direkomendasikan kepada sang Raja sebagai “minuman ajaib”. 

Adapun kedai kopi pertama di Paris, Café de Procope, dibuka pada tahun 1686 setelah pengepungan kedua Wina. Ottoman mundur, dan meninggalkan barang-barang yang di antaranya adalah kopi. Pada awalnya, biji kopi tersebut tampaknya tidak berguna sampai seorang pria bernama Kulczycki menukarnya sebagai alat pembayaran. Kulczycki  yang pernah tinggal di antara orang Turki selama bertahun-tahun dan pernah menjadi mata-mata bagi orang-orang Austria selama pengepungan tersebut.

Akhirnya seseorang  membuka sebuah kedai kopi dan membantu mempopulerkan rasa dengan menambahkan gula dan susu ke dalam ramuan kopi. Beberapa orang malah memberikan reaksi curiga, takut, dan menyebutnya sebagai “penemuan setan  pahit”. 

Klerus setempat mengutuk kopi ketika sampai di Venesia pada tahun 1615. Kontroversi ini begitu heboh di sana hingga Paus Klemens VIII diminta untuk turun tangan. Akhirnya dengan bijak Pays Klemens VIII memutuskan untuk mencicipi minuman sendiri sebelum mengambil keputusan. Dan ternyata minuman itu mampu mencuri hatinya sehingga dia memberikan persetujuan kepausan.

Salah satu sumber mengatakan  bahwa seorang paus melarang penganut Kristen untuk mencicipi minuman Muslim ini dalam waktu  lama sampai paus lain datang untuk membaptis sekantong kopi dan menyatakan bahwa kopi juga adalah minuman Kristen di kemudian hari.

Lucunya….Kita diajarkan dalam sains bahwa kopi tidak bagus untuk kesehatan. Padahal sebenarnya kopi adalah salah satu minuman kegemaran Nabi selain susu dan madu. Coba lihat orang orang Yahudipun akhirnya menggemari minuman kopi. Contoh: Profesor di UK , terutama yang Yahudi, selalu ada segelas kopi di tangan mereka saat santai.
Lalu siapa yang membuat dogma-dogma bulus yang menginginkan muslim melepas minuman khas tradisional muslim?

Catatan: 

Bukan ‘Nescafe’ yang menemukan kopi, tapi kopilah yang menjadikannya ada di cafe-cafe.

Bukankah Muslim adalah orang-orang yang pertama kali menanam dan merevolusi kopi di dunia.

Karena Islam selalu menjadi inspirasi  untuk merevolusi dunia sekali lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s