Doa dan Remahan Cinta

Ketika doa darimu dilarutkan dalam remahan kopi dan gula manis. 

Kukenali rasa legit dan gaung suara yang melekat di lidahku setelahnya. 
Lalu, namamu mulai berputar, dirapal dalam arus waktu dan angka yang berpacu. 
Di sini, di piringku, ada gandum bermentega yang bersedekap tanpa kepala. 
Inikah musuh yang harus dilahap paripurna, ketika butir-butir biji cinta mulai menderas di beranda?
Semua menundukkan kepala. 

Kopi itu telah melebur dalam aroma tanpa peduli lagi sebuah ‘nama’. 

#Diyan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s