“Aku” Adalah Musuhku

​Sedikit bocoran:

di dalam diri setiap manusia, tersimpan segudang data tentang tiap manusia lainnya. Dalam psikologi, ini dinamakan “Collective unsconsciousness.”

“Do not feel lonely, the entire universe is inside you.” – Rumi.

“Stop acting so small. You are the universe in ecstatic motion.”― Rumi

Want to be Exist?

Apa yang ada padaku adalah dari Allah dan akan kembali pada Allah jika suatu waktu Dia memintanya? Aku ikhlas.

Namun ada bagian dari dalam diri ku yang merasa memiliki titipan tersebut sehingga kadang aku merasa bangga atas apa yang aku perbuat, iri jika tidak sebanding, merasa kurang jika tak berlebih. Bagian ini, sudah sekian kalinya berlomba-lomba dengan ku.

Sehingga pada dasarnya setiap orang tidaklah bersaing dengan orang lainnya karena masing-masing orang sudah terlahir sebagai pemenang dan unggul dengan potensinya masing-masing yang sudah Tuhan berikan sejak lahir. 

Namun, yang sebenarnya dihadapi oleh setiap orang adalah dirinya sendiri. Bagian lain dalam diri, yang sering berusaha untuk mengingkari, menafikan, dan tidak jujur. 

Ia kadang bisa hadir dalam hasrat-hasrat mendapatkan, meraih, menginginkan dengan taraf yang berlebihan, atau pula datang dalam bentuk keadaan hati yang tidak menyenangkan atau segala sesuatu yang bertujuan untuk memuaskan kesenangan sesaat tanpa mempedulikan tujuan akhir yang lebih bermanfaat.

Sudah menjadi bawaan bahwa setiap orang ingin unggul, ingin menang, ingin tampil dan ingin terlihat. Karena sejak lahir manusia sudah menjadi unggul dan menjadi seorang pemenang serta merupakan makhluk yang exist. 

Wajar jika sebagai manusia kita menginginkan semua itu. Tapi sebetulnya kita mesti mengetahui menang itu dalam hal apa, unggul itu apa, tampil itu bagaimana, dan terlihat itu yang seperti apa.

Sehingga tidak perlu repot rebut-rebutan tempat untuk mendapatkan posisi menang, di tempat yang sebenarnya sudah mendapat porsi dan bagian masing-masing. 

Dengan mengetahui esensi dan tujuannya, kita akan menang di tempat kita masing-masing.

Tuhan itu Maha adil. Dan sudah menyediakan tempat dan porsi masing-masing untuk setiap hambaNya dengan teliti dan tidak akan pernah tertukar.

Tentang Passion

sketch-1494376166451You are what you do, not you say that you ‘ll do!!

Abraham Maslow berkata:

“Seorang musisi akan mendapatkan ketenangan dalam jiwanya saat ia memainkan alat musiknya.

Begitu juga seorang pelukis akan mendapatkan ketenangan saat ia menggambar.

Penyair juga seperti itu saat ia melantunkan syairnya.

Setiap orang harus berupaya menjadi apa yang  memang seharusnya ia kerjakan.

Dorongan dan kebutuhan inilah yang kita sebut aktualisasi diri.  mewujudkan potensi-potensinya sesuai bakat, meskipun bersifat potensial.

Berusaha untuk lebih dari ideal, Seperti menjadi pahlawan,
menjadi inovator,
pelukis ulung,
dan seterusnya.

Menjadi apapun itu jadilah.
Apabila merasa aman ,
Melakukan dengan penuh cinta,
Membawa kebaikan dan kemuliaan serta terpenuhinya kebutuhan fisiologis saat menjalaninya maka itulah passion terbaikmu.”

Aktualisasi diri juga berguna untuk pengembangan spiritual.

Tau jahatnya ego?
Ego mampu menghambat kesuksesanmu. Tak perduli banyaknya bakat.
Bisa melakukan ini dan itu dengan sekejap tapi kok karir terasa terhambat?
Apa yang kau anggap istimewa itulah masalahmu!
Akibatnya jadi kurang fokus.
Ditambah sikap angin-anginan yang bertindak sesuai suasana mood.

Tentukan satu passion.

Satu bakat tapi ditekuni, lebih baik daripada seribu bakat tapi tak terarah.

Antara Ilmu dan Hikmah

1493188434726“Hikmah itu ibarat harta, maka apabila kau temui ia dimanapun kau berada, ambillah dan galilah, Kumpulkanlah ia dalam satu buku yang suatu hari akan bersinar menjadi ilmu”.–Leyla fajr.

Harta seseorang sejatinya bukanlah hanya dibatasi oleh materi dan kebendaaan, melainkan juga ilmu yang bermanfaat untuk dunia dam akhirat. Kita tahu, materi bersifat semu, sekejap akan sirna meninggalkan kekosongan, tetapi ilmu tak akan pernah kosong. Ia akan bersinar sebagaimana cahaya yang menerangi. Makin banyak cahaya, makin teranglah suatu ruang. Dengannya seseorang mengerti, dengannya seseorang melihat dan dengannya seseorang menjadi bijak. Ilmu ada dimana-mana, dibalik kesalahan, dibalik penolakan, dibalik ketidak-adilan, dibalik penderitaan dan dibalik kefakiran maupun kesusahan. Karena pada kenyataannya kita memang musti belajar dari setiap kegagalan dan rasa sakit.

Jika pensil dibuat bersama dengan karet penghapusnya maka rasa sakit juga pasti diturunkan beserta penyembuhnya. Jika pensil membutuhkan pisau peruncing agar dapat digunakan maka manusiapun butuh masalah agar bisa meningkatkan kualitas.
Kita harus pernah ditempatkan dalam keadaan gelap agar kita tahu bagaimana menikmati terang. Kita terlebih dulu melakukan kesalahan agar kita faham bagaimana sesuatu yang seharusnya benar. Kita harus mengalami penolakan agar kita mampu menghargai sebuah penerimaan. Inilah yang dinamakan ilmu hikmah. Tuhan memang unik dalam berbahasa, dan untuk memahami bahasanya kitapun mesti  peka. Melihat dengan kejernihan hati dalam mengamati semua peristiwa, karena akan selalu ada hubungan sebab akibat di dalamnya. Uniknya lagi semua hal yang terjadi akan terbentuk menjadi sebuah siklus dengan pola yang melingkar, berawal disatu titik lalu berakhir di titik itu pula.

Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai, apa yang kita lakukan itulah yang akan kita dapatkan. Manusia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Sedikit atau banyak bukanlah sebuah ukuran karena setiap niat tetap membutuhkan usaha untuk mampu mencapai keberhasilan. Seperti dalam Firman-Nya “ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya”.

Meski terkadang takdir-Nya memang telah menuliskan masing-masing jatah pada setiap goresan tangan manusia, namun bila gagal dalam perkara A berarti ada kemungkinan gagal di perkara B, bila gagal diperkara B bisa jadi keberhasilanmu ada di pintu C. Jangan terpaku hanya pada satu pintu dengan mengorbankan waktu, tenaga dan fikiran tanpa mencari alternatif dan solusi dari jalan lain.

Terkadang hikmah sering didapat dari pengalaman hidup diri sendiri, teman, saudara, ataupun orang tua. Maka tak ada salahnya jika kita membuka hati untuk mengambil pelajaran dari sana. Semua orang adalah unik dan memiliki potensi sebagai bekal yang di anugerahkan Allah untuknya menjalani hidup. Sebagai manusia kita hanya bisa menerima dan menjalani peran yang telah di tentukan dengan sebaik mungkin dengan tetap berusaha untuk mempersembahkan apa yang terbaik dari diri sendiri. Semua kebaikan akan mengikuti jalan yang baik-baik.